Skip to main content
Jangan Pernah Membandingkan Pekerjaan Instansi Lain Karena Semuanya Sama-sama Ruwet!

Jangan Pernah Membandingkan Pekerjaan Instansi Lain Karena Semuanya Sama-sama Ruwet!

Beberapa hari lalu aku sempat nongkrong di sebuah kedai kopi dekat rumah dan saya lihat ada beberapa orang disana yang juga sedang ngopi, ngebul, ada yang makan mie sama telur, ada 5 orang termasuk saya. Di meja sebelah, ada dua orang yang tampaknya teman lama sedang saling melempar keluhan soal tempat kerja masing-masing.

Dari percakapan yang saya dengar, yang satu bekerja sebagai tenaga kesehatan di rumah sakit daerah, sementara yang satunya lagi mengajar di sebuah sekolah swasta. Obrolan yang awalnya saya dengar cuma santai saja itu mendadak berubah jadi ajang adu nasib. Si guru merasa beban mental menghadapi murid dan orang tua murid makin tidak masuk akal, sementara si perawat merasa pekerjaannya jauh lebih berat karena selain bertaruh nyawa setiap hari, juga harus ini dan itu.

Jangan Pernah Membandingkan Pekerjaan Instansi Lain Karena Semuanya Sama-sama Ruwet!

Mendengar perdebatan kecil itu, saya cuma bisa tersenyum tipis sambil minum kopi dan makan gorengan. Fenomena saling membandingkan pekerjaan instansi lain ini sebenarnya bukan hal baru. Di media sosial, perdebatan semacam ini bahkan bisa meledak jadi pemicu keributan antar profesi. Banyak orang terjebak dalam anggapan bahwa rumput tetangga selalu lebih hijau, atau sebaliknya, merasa profesinyalah yang paling menderita di muka bumi ini.

Padahal kalau kita mau jujur dan melihat keadaan yang sebenarnya, tidak ada satupun profesi yang benar-benar santai. Setiap instansi punya beban kerja, aturan main, dan tingkat keruwetan yang berbeda. Ketika kamu mulai membandingkan profesimu dengan orang lain, kamu sebenarnya sedang membandingkan dua hal yang dasarnya saja sudah tidak bisa disetarakan.

Misalkan seperti contoh perdebatan yang saya singgung sebelumnya, antara guru dan perawat, tidak bisa dua profesi ini dibandingkan satu sama lain, apapun alasannya dan bagaimanapun kondisinya, tidak bisa, keduanya sangatlah berbeda. Dilihat dari sudut pandangkan manapun, tidak ada yang bisa membandingkan dua porfesi yang berbeda.

Kenapa saya mengambil contoh perbandingan dua profesi ini didalam artikel yang saya tulis ini? Karena dari dulu, bahkan sebelum saya lahir mungkin, sudah banyak sekali perdebatan-perdebatan yang membanding pekerjaan instansi lain yang menjadi favorit di negeri ini.

Dengan mengambil dari berbagai sumber, terutama bertanya langsung ke teman saya yang seorang guru, saya membuat kesimpulan kecil mengenai pekerjaan guru dan perawat, meskipun saya sebagai perawat, kesimpulan kecil ini hanya untuk lebih memberikan edukasi ke masyarakat kalau semua profesi itu, tidak bisa dibandingkan dalam hal apapun.

Dilema Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dan Tuntutan Moral Guru

Seperti yang kita ketahui bersama, masyarakat kita ini sangat gemar memberi label tinggi pada profesi atau pangkat jabatan tertentu. Guru, misalnya, sejak dulu selalu disematkan sebagai gelar pahlawan tanpa tanda jasa. Katanya, tanpa kehadiran seorang guru, tidak akan ada orang yang bisa jadi dokter, perawat, menteri, atau presiden. Mitos dan sanjungan ini kedengarannya sangat indah di telinga, tapi buat para tenaga pendidik di lapangan, label ini sering kali berubah jadi beban moral yang teramat berat.

Untuk mereka yang hanya mengartikan gelar pahlawan tanpa tanda jasa ini secara sederhana mungkin beranggapan kalau pekerjaan guru itu mudah, mengajar dari pagi, siang istirahat, mengajar lagi dan pulang, terus selesai. Tidak, tidak eperti itu, masih banyak PR-PR yang dibawa pulang oleh para guru ini yang tidak diketahui oleh masyarakat.

Coba bayangkan tekanan yang harus dipikul seorang guru sehari-hari. Mereka bukan cuma dituntut menuntaskan kurikulum yang sering berganti-ganti, tapi juga dibebani tanggung jawab membentuk karakter anak orang lain. Bukan hanya sekedar memberikan materi teori ilmu, tapi sangat lengkap agar siswa itu tidak hanya pinter tapi memiliki etika dan karakter yang baik.

Dan ada satu poin penting disini, ketika seorang siswa berhasil meraih prestasi tinggi atau menjadi orang sukses, publik akan menganggap itu adalah buah dari kerja keras si anak atau fasilitas orang tuanya.

Iya kan? Masyarakat akan bertanya seperti ini, Anaknya siapa? Ooo pantes lah orang tuanya juga pinter dan kaya. Jarang sekali ada guru yang mendadak dipuja-puja secara berlebihan karena berhasil membuat satu anak jadi pintar.

Menulis bagian ini saya jadi teringat dengan guru BP saya waktu SMA dulu, tahun 1998. Beliau sangat sangat baik, gak pernah marah, selalu ngasi support ke saya, bantuin saya sampai saya mendapatkan beasiswa waktu itu yang bahkan keluarga saya tidak tahu. Hanya ibu saya yang tahu kalau saya mendapatkan beasiswa.

Namun, skenario sebaliknya jauh lebih menyakitkan ketika apa yang terjadi pada seorang siswa tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh orang tuanya atau masyarakat, misalnya:

  • Anak didik tidak bisa membaca atau lambat memahami pelajaran, guru yang dianggap tidak becus mengajar.
  • Anak terlibat kenakalan di luar sekolah, sekolah dan guru yang pertama kali disalahkan karena dianggap gagal mendidik.
  • Guru memberi teguran disiplin yang sedikit tegas, ancaman laporan polisi atau viral di media sosial sudah menanti di depan mata.

Apakah ada orang tua yang menuntut seorang guru ke ranah hukum hanya karena anaknya tidak kunjung pintar setelah bertahun-tahun sekolah? Rasanya hampir tidak pernah kita mendengar kasus seperti itu. Namun, tekanan psikologis yang dirasakan guru saat harus menghadapi puluhan kepala dengan latar belakang keluarga yang berbeda-beda adalah bentuk keruwetan tersendiri yang jarang dipahami orang luar.

Realita Pahit Tenaga Kesehatan yang Bertaruh Nyawa

Di sisi lain, mari kita tengok dunia kesehatan... Ada anggapan umum di masyarakat bahwa menjadi perawat atau tenaga kesehatan itu harus selalu didasari rasa ikhlas yang tanpa batas.

Begitu ada perawat yang kelihatan lelah, kurang tersenyum, atau mengeluhkan jam kerja yang panjang, komentar miring langsung bermunculan di masyarakat. Narasi seperti "jadi perawat kok tidak ikhlas" atau "kan memang sudah tugasnya melayani" begitu mudah dilontarkan oleh orang-orang yang tidak pernah berdiri di posisi mereka.

Menjadi perawat itu jauh dari kata mudah dan bahkan tidak semudah yang dipikirkan. Pekerjaan ini menuntut ketelitian tingkat tinggi di tengah situasi yang penuh dengan tekanan emosional. Apa yang dihadapi perawat setiap shift kerja bukanlah tumpukan berkas mati atau angka di layar komputer, melainkan nyawa manusia, rasa sakit yang merintih, kecemasan keluarga pasien, rasa bingung, hingga duka mendalam saat pasien tak tertolong.

Seakan-akan semua gejolak emosi yang dirasakan oleh pasien dan keluarga pasien harus mampu diatasi oleh perawat saat itu juga. Padahal kalau kita berpikir secara jernih:

  1. Bukan perawat yang menyebabkan pasien tersebut jatuh sakit atau menderita luka.
  2. Bukan perawat yang menentukan takdir ketika kondisi medis seseorang memburuk hingga meninggal dunia.
  3. Sistem fasilitas kesehatan yang terbatas sering kali membuat perawat harus bekerja melebihi kapasitas fisiknya.

Pahitnya, ketika seluruh upaya medis sudah dilakukan secara maksimal namun hasil akhirnya gagal, perawat dan tenaga kesehatan di garis depanlah yang paling sering kena imbasnya. Merekalah yang menjadi sasaran kemarahan, caci maki, bahkan kekerasan fisik dari keluarga pasien yang sedang diselimuti emosi. Beban emosional seperti ini tidak bisa diukur sekadar dengan materi.

Ini bukan tentang karena sudah pekerjaannya, tapi lebih kepemahaman bagaimana kondisi pasien dengan hanya 3 orang perawat setiap shift pagi, sore dan malam bisa menghandle 25 pasien dengan segala keluhan dan diganosa penyakit yang berbeda, dengan segala harapan semua keluarga pasien agar pasien segera sembuh atau membaik.

Ini bukan tentang sekedar kewajiban dalam pekerjaan, tapi bagaimana caranya hanya dengan 3-4 perawat menjaga, memantau, mengobservasi setiap detik pasien-pasien diruang Intensive Care, yang mana pasien-pasien disana lebih ketat pemantauannya.

Membandingkan Beban Kerja Itu Usaha yang Sia-Sia

Dari dua contoh profesi di atas saja, kita bisa melihat betapa naifnya kita jika kita mencoba mengadu mana yang lebih berat. Guru berhadapan dengan masa depan karakter anak didik dan administrasi yang menumpuk, sedangkan perawat berhadapan langsung dengan kondisi hidup dan mati seorang pasien di bangsal rumah sakit.

Setiap instansi punya jenis keruwetan yang berbeda-beda, yang tidak beda itulah yang selalu beranggapan apa yang mereka lihat terlihat mudah dan gampang atau karena sudah pekerjaannya. Padahal dibalik pekerjaannya adalah tanggungjawab lebih yang tidak pernah kita ketahui. Kalau kita mau membedah profesi lain pun, kondisinya akan tetap sama dan tidak ada yang bisa menilainya sama. Saya coba sedikit bikin rangkuman mengenai beban kerja setiap profesi:

Sektor Pekerjaan Tantangan Utama di Lapangan Risiko dan Beban Mental
Pendidikan (Guru/Dosen) Administrasi kurikulum, pembentukan karakter, dinamika wali murid Tuntutan moral tinggi, risiko kriminalisasi saat mendisiplinkan siswa
Kesehatan (Perawat/Bidang Medis) Jam kerja shift, tekanan emosional pasien, tindakan medis Burnout fisik, paparan penyakit, sasaran pelampiasan emosi keluarga pasien
Pelayanan Publik (PNS/Ritel) Sistem birokrasi kaku, menghadapi komplain masyarakat setiap hari Tekanan dari atasan, tuntutan pelayanan sempurna dengan fasilitas terbatas
Pekerja Lapangan / Konstruksi Cuaca ekstrem, target waktu yang ketat, beban fisik berat Risiko kecelakaan kerja tinggi, jauh dari keluarga dalam waktu lama

Tabel sederhana di atas menunjukkan bahwa tidak ada posisi yang benar-benar bersih atau bebas dari masalah. Ketika seseorang menganggap pekerjaan instansi lain terlihat lebih enak, itu biasanya terjadi karena mereka cuma melihat hasil akhirnya atau fasilitas yang tampak dari luar, tanpa pernah merasakan sendiri bagaimana pusingnya menjalankan operasional harian di instansi tersebut.

Stop Membandingkan dan Mulai Membangun Empati Lintas Profesi

Saya pribadi pernah berada di posisi di mana saya merasa pekerjaan yang saya jalani adalah yang paling berat dan tidak dihargai. Rasanya ingin sekali bertukar tempat dengan teman yang kelihatannya cuma duduk di depan laptop di kantor ber-AC. Namun, setelah makin sering berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai latar belakang profesi, ada sisi baik dan tidak yang memang harus dihadapi.

Teman saya yang kerja di kantor ber-AC itu ternyata sering mengalami insomnia parah karena target penjualan yang tidak masuk akal dari manajemen. Teman yang bekerja sebagai ASN di dinas pemerintah sering kali harus pulang larut malam hanya untuk menyelesaikan laporan anggaran yang revisinya tidak pernah berhenti. Sementara teman yang punya usaha sendiri harus memutar otak setiap akhir bulan agar bisa membayar gaji karyawannya tepat waktu.

Membandingkan beban kerja seriap instansi yang berbeda akan merusak pola pikir dan hanya akan memicu beberapa hal buruk berikut:

  • Menimbulkan rasa dengki dan ketidaksenangan terhadap pencapaian teman atau kerabat sendiri.
  • Membuat kita makin tidak bersyukur dengan pekerjaan yang saat ini sedang kita jalani.
  • Menciptakan sekat dan gesekan antar profesi di tengah masyarakat.
  • Menghabiskan energi mental untuk hal-hal yang tidak membawa perubahan positif bagi karir kita.

Daripada sibuk mengadu nasib atau merasa paling terpuruk, akan jauh lebih bijak kalau kita mulai mengasah rasa empati. Ketika sedang berobat ke rumah sakit dan berinteraksi dengan perawat yang tampak lelah, cobalah untuk memahami bahwa mereka mungkin baru saja melewati shift malam yang sangat berat. Begitu juga saat berhadapan dengan guru anak-anak kita di sekolah, berikan apresiasi atas kesabaran mereka yang sudah membantu mendidik anak kita sepanjang hari.

Dunia kerja ini sudah cukup keras tanpa perlu kita tambah dengan perdebatan siapa yang paling menderita atau yang paling baik. Menyadari bahwa semua orang sedang berjuang dengan keruwetan di tempat kerjanya masing-masing adalah langkah awal untuk menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat dan saling mendukung.

Fokus saja menyelesaikan tanggung jawab yang ada di depan mata dengan sebaik-baiknya. Kalau memang merasa kondisi kerja saat ini sudah tidak sehat bagi kesehatan mental atau fisik, carilah jalan keluar yang rasional seperti meningkatkan keterampilan baru atau mencari peluang di tempat lain, bukan malah sibuk menunjuk pekerjaan orang lain dan menganggapnya lebih mudah.

Medika Kreatif
Penulis:
Medika Kreatif
Medika Kreatif: Asisten digital, solusi web kreatif, templa…

Tinggalkan komentar